Showing posts with label fraud. Show all posts
Showing posts with label fraud. Show all posts

Tuesday, November 19, 2013

Mendeteksi Lapping

Artikel ini merpakan lanjutan artikel tentang Lapping, yaitu kecurangan pencatat piutang dagang untuk menunda pnecatatan piutang agar dia bisa 'meminjam' uang perusahaan (tentunya secara ilegal). Dalam artikel ini akan diulas mengenai bagaimana auditor internal perusahaan dapat mendeteksi lapping.

Beberapa cara untuk mendeteksi lapping adalah:
1. Mengirimkan Monthly Statement ke konsumen yang berpiutang
2. Rotasi karyawan akuntansi
3. Wajib Cuti bagi Karyawan Akuntansi

Monthly Statement
Salah satu cara untuk mendeteksi lapping yang cukup ampiuh adalah Mengirimkan Monthly Statement ke konsumen yang berpiutang. Monthly Statement adalah laporan saldo piutang per konsumen. Dalam monthly statement akan tertera berapa piutang yang masih ada. Silahkan simak contoh berikut ini untuk melihat bagaimana mekanisme Monthly Statement bisa mendeteksi Lapping.

Karyawan perusahaan, anggap saja namanya Curanga bertanggung jawab untuk menerima pelunasan kas dari piutang pelanggan dan mencatat pelunasan tersebut ke dalam kartu piutang. Konsumen perusahaan, CV ABC melakukan pembayaran piutang sebesar Rp20.000.000 pada tanggal 28 Maret 2014. Curanga mengambil uang tersebut dan menunda pencatatan pelunasan CV ABC. Jadi, jika kita melihat kartu piutang CV ABC akan terbaca CV ABC belum membayar. Berikutnya, konsumen perusahaan, CV GHI melakukan pembayaran sebesar Rp21.000.000 pada tanggal 30 Maret 2014. Curanga akan mencatat pelunasan GHIU tersebut sebagai pelunasan CV ABC. Sisa uang sebesar Rp1.000.000 akan dikantongi lagi oleh Curanga.

Perusahaan mulai Bulan April, per awal bulan mengirimkan laporan piutang (monthly statement) ke konsumen yang memiliki saldo piutang. Dengan skema lapping Curanga, maka CV GHI juga akan dikirimi Monthly Statement, yang memuat informasi bahwa CV GHI belum membayar piutang sebesar Rp21.000.000.

Dapat dibayangkan apa yang terjadi berkutnya? Jika CV GHI teliti, maka CV GHI akan telpon ke perusahaan dan komplain, mengatakan bahwa CV GHI sudah membayar per 29 Maret, mengapa dalam laporan per 1 April, masih tertulis ada piutang yang belum dibayar.

Jadi, monthly statement bisa berguna untuk mendeteksi lapping. Konsumen dapat 'dimanfaatkan'  untuk membantu perusahaan mencegah dan mendeteksi lapping.

Rotasi Karyawan Akuntansi
Karyawan pencatat piutang adalah karyawan yang memiliki kesempatan untuk melakukan lapping (jika karyawan tersebut merangkap sebagai penerima kas dari konsumen). Yang dimaksud dengan rotasi karyawan adalah memindahkan karyawan bagian pencatat piutang menjadi bagian akuntansi yang lain (misalnya bagian pencatat utang dagang). Dengan rotasi karyawan, maka paling tidak lapping akan berhenti pada saat karryawan pencatat piutang harus menyerahkan tugasnya ke temannya yang lain (pada saat si karyawan berhenti menjadi pencatat piutang).

Wajib Cuti
Ada kalannya perusahaan merasa senang jika memiliki karyawan yang rajin bekerja. Bahkan ada kebijakan, jika bersedia bekerja pada musim liburan (misalnya lebaran), karyawan akan mendapat gaji dua kali lipat. Kebijakan "jangan liburan" seperti ini, tidak cocok diterapkan untuk karyawan bagian Akuntansi. khususnya bagian pencatata piutang.

Karyawan pelaku lapping, lumrahnya memang tidak ingin libur, karena jika mereka libur, maka karyawan lain (sebagai pengganti sementara) dapat mencium adanya lapping .............. Contoh, karyawan pengganti bisa saja tidak sengaja menelpon konsumen yang dikira belum membayar piutang (padahal konsumen tersebut sudah membayar, hanya saja, uangnya baru dipinjam oleh si pelaku lapping). Jika ini terjadi, tentu saja konsumen akan komplain .... "lho kog bisa, saya barusan bayar tu ....."

Oleh karena  itu, kewajiban untuk mengambil cuti dapat menjadi ancaman bagi pelaku lapping .... untuk segera menghentikan lapping pada saat dia wajib mengambil cuti.

Penutup
Sebenarnya, daripada mendeteksi lapping, lebih baik mencegah lapping. Silahkan lihat apa yang dapat dilakukan perusahaan untuk mencegah terjadinya lapping.

Friday, November 30, 2012

Lapping

Lapping adalah satu kecurangan (fraud) yang mungkin timbul jika bagian pencatat piutang merangkap sebagai bagian penerima kas dari konsumen. Lapping ini kejahatan yang dapat terjadi jika perusahaan menjual barang secara kredit. Apa itu lapping? Mungkin lebih mudah mengenal lapping melalui ilustrasi berikut ini.

Anggap saja. perusahaan ABC memiliki lima pelanggan, A, B, C, D dan E. Misalkan piutang pelanggan A adalah Rp5.000.000, piutang B, Rp6.000.000, piutang C, Rp4.000.000, dan piutang D, Rp7.000.000 dan piutang E Rp6.000.000.

Karyawan bagian penagihan menerima pelunasan dari A, Rp5.000.000. Karyawan tidak mencatat pelunasan piutang ini. Seolah-olah konsumen belum melunasi piutangnya. Uang sebesar Rp5.000.000 dipakai oleh karyawan.

Saat berikutnya, karyawan menerima pelunasan dari si B, Rp6.000.000. Karyawan akan mencatat pelunasan si A Rp5.000.000 dan meneytorkan uang Rp5.000.0000 ke atasannya. Sementara kelebihan Rp1.000.000 dari konsumen B akan kembali dikantongi dan mungkin dikonsumsi.

Berikutnya, saat menerima pelunasan dari si C, karyawan bisa memilih untuk mencatat opelunasan si C atau mencata sebagai pelunasan di B (yang berarti dia nombok Rp2.000.000). dan seterusnya ................

Lapping ini tidak mungkin dilakukan jika  tugas antara  pencatat piutang dipisahkan dari tugas menerima kas.

Berikut beberapa pengendalian untuk mencegah lapping:
1. pencatat piutang dipisahkan dari penerima  kas
2. menyarankan konsumen (atau malah mewajibkian konsumen) untuk membayar dengan transfer atau cek.
3. mewajibkan karyawan terkait untuk mengambil cuti.

Lebih lanjut, silahkan baca artikel tentang Mendeteksi Lapping jika ingin mengetahui bagaimana caranya mendeteksi kecurangan lapping.